Kelabu

Suasana kantor hari ini begitu gelap, semua suasana kantor masih terasa berkaca-kaca, dan semangat kantor juga sedikit berkurang, ada salah satu teman kantor yang telah meninggal dunia pada umur 22 tahun kalau gk salah, namanya Jenita Sari, kebetulan juga baru 2 kali ak bertemu beliau dan ak pun belum sempat berkenalan, beliau memang begitu pendiam dalam penilaianku selama 2 kali pertemuan kami itu, setelah itu beliau memang sempat tidak pernah masuk dan akhirnya dipanggil oleh Allah, untuk mbak Jenita semoga Allah selalu memberikan tempat yang terindah untukmu, amin..

Tidak terasa kejadian di kantor ini membawa hampir seluruh pikiranku mengenang masa dimana seluruh keluarga kami tidak bisa menghentikan air mata yang begitu deras, menguatkan tulang kaki untuk bisa berdiri, dan berhari hari kami dibuat hampir selalu menangisi semua yang telah kami lalui pada saat mamah mesti dipanggil oleh Allah SWT, bayangan dan pikiran kami selalu dipenuhi oleh wajah mama yang seolah masih tetap melakukan kebiasaannya dengan baik, bahkan pada saat ak pulang ke rumah mama masih terasa sedang tiduran di kamarnya, sambil kadang dia bilang, “lhe minum ndang ngelak loh” walaupun untuk sakit yang di derita mamah minum air itu sangat dilarang, dan kami selalu membatasi utk minum air, karena dalam 5 hari mamah hanya boleh minum air sebanyak 2 gelas, mamah sudah 3,5 tahun menjalani cuci darah, karena penyakit gagal ginjal hipertensi nya, dan selama waktu itu pula mama mengajarkan kami semua seperti apa yang namanya sabar dan iklas dengan smua keputusan Allah, bagaimana tidak mamah wajib cuci darah 5 hari sekali, dan setiap 5 hari sekali itu mamah mesti berangkat ke Surabaya dari Pare (sekitar 3jam) karena tempat cuci darahnya ada di RS Darmo Surabaya, dan menghabiskan 5 jam untuk melakukan proses cuci darah, keadaan tersebut tidak bisa dijalani oleh orang yang biasa biasa saja, butuh orang2 hebat yang bisa sabar, iklas dan kuat untuk menjalani proses itu, walaupun akhirnya setelah 3.5 tahun proses perjuangan kami semua mesti berakhir mamah mesti pulang ke sisi-NYA, dan begitu banyak proses pembelajaran buat keluarga kami, buat papah, ak dan istriku hingga dekna dan dekga, semua begitu hebat dan kuat menghadapi masalah ini, sungguh ak yakin mamah begitu luar biasa untuk membentuk seluruh anak anak nya, pada bulan puasa mamah akhirnya mesti kami relakan dengan segenap kepingan kepingan yang belum sempat tersusun oleh penyakitnya, kepingan itu makin hancur lebur, dan hanya keiklasan kami yang dapat kami berikan ke mama untuk bekal kami tetap bertahan, setelah kepergian mama hanya doa dan bayangan bayangan indah yang selalu terkenang, tapi kami sangat bersyukur kedaan sakit sebelum mama pergi telah menghapus dosa mama, dan semoga Allah selalu memberikan tempat yang paling indah, dan untuk semua orang yang telah meninggal karena sakit percayalah bahwa Allah telah memberikan sakit sebagai penghapus dosa, amin ya rabbal alamin

1 Response to “Kelabu”


  1. 1 cha February 6, 2012 at 11:58 am

    🙂 jenita sari .. 24, tahun, sebulan lagi beliau berusia 25 tahun sebenarnya,
    di YISC Al-Azhar, kami mengenalnya sebagai anak yang ceria … helpfull ..
    optimis🙂

    kematian memang tak terduga.
    pelajaran bagi yang hidup.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow me

February 2012
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Status

Kirim Pesan YM